Dubes Tantowi Jelaskan Alasan Tak Ada Jumpa Pers Jokowi

Tantowi Yahya, Duta Besar Indonesia di Wellington memberikan klarifikasi pendapat kolumnis dari Selandia Baru yakni Audrey Young yang mana menyebutkan Presiden Joko Widodo tak menghormati tuan rumah togel hongkong karena beliau tidak menggelar jumpa pers untuk para wartawan.

Tanggapan Atas Artikel Young

Di dalam artikel yang bertajuk “Visiting Leaders show disrespect by failing to share platform with Jacinda Ardern” yang dilansir dari CNN Indonesia, Young sendiri menyatakan bahwa sebagai kepala negara adalah sangat memalukan jika Jokowi tak tampil dalam konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Jacinda Ardern.

Di dalam tulisan itu juga disebutkan bahwa Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru sudah menawarkan konferensi pers bersama-sama, namun ditolak oleh Indonesia. lewat rilisan yang dikutip dari CNN Indonesia, Senin pagi (26/3), Tantowi langsung menegaskan bahwa keputusan untuk tak membuat keterangan pers adalah usulan yang datang dari Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru yang lalu diadopsi menjadi keputusan bersama.

“Untuk konsumsi publik, hasil-hasil pertemuan bakal disarikan ke dalam pernyataan bersama yang dimuat di situs resmi kedua negara tersebut,” ungkap Tantowi. “Sebagai tamu, kami tentunya menghargai posisi yang diambil dari tuan rumah. Kami juga mendukung sepenuhnya, karena tak ada yang salah dengan sikap tersebut,” lanjutnya menambahkan klarifikasi tersebut.

Ia juga menyatakan telah melayangkan protes keras pada Young dan juga mendesak ia untuk membuat klarifikasi karena apa yang ditulisnya tak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. “Tulisan bahwa Presiden Joko Widodo menolak untuk berkomunikasi dengan media adalah pendapat pribadi dari Audrey Young yang mana tidak didukung oleh bukti dan juga fakta,” imbuhnya.

“Joko Widodo adalah orang biasa pertama yang menjadi Presiden Indonesia. sebagai Presiden dari negara demokrasi yang paling besar ketiga di dunia, Joko Widodo menjungjung tinggi sekali kebebasan berekspresi dan juga independensi pers sebagai salah satu pilarnya demokrasi,” ucap Tantowi mempertegas.

Lawatan Presiden Jokowi ke Selandia Baru

Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Selandia baru, setelah Presiden Abdurahman Wahid yang diadakan 13 tahun yang lalu merupakan lawatan yang sukses dan juga sangat produktif. Kunjungan kenegaraannya yang mana dilaksanakan pada tanggal 18 sampai 19 Maret 2018 tersebut adalah hasil persiapan matang dari tim kedua negara jauh-jauh hari sebelumnya. “Kami amat sangat puas dengan pelayanan, penyambutan dan juga perhatian yang diberikan oleh Pemerintah Selandia Baru,” ungkap Tantowi.

Lawatan itu pasalnya dilakukan  dalam merangka 60 tahun hubungan diplomatic Indonesia dengan Selandia Baru. Selama jangka waktu tersebut, ada banyak hal yang telah dicapai kedua negara ini. misalnya mulai dari sektor perdagangan, investasi, pariwisata, pendidikan, pertanian, kontraterorisme, kerjasama pertahanan, politik dan penanganan bencana.

“Kedua negara sudah sepakat untuk bisa meningkatkan kerjasama dan derajat hubungan dari strategis ke komprehensif. Kedua negara juga sudah berkomitmen untuk meningkatkan perdagangan yang tadinya NZ $1,6 milyar yang setara dengan Rp. 16 triliun menjadi NZ $4 milyar atau setara dengan Rp. 40 triliun sebelum tahun 2024,” tegas Tantowi.

Tentu saja lawatan Jokowi ke Selandia Baru ini mendapatkan perhatian dan respons yang baik, baik dari para warga negara Indonesia yang tinggal di Selandia Baru atau pun warga Indonesia yang tinggal di Indonesia. setelah beberapa waktu lalu melawat ke Australia, Jokowi dinilai mampu menjaga hubungan baik dengan negara tetangga terdekat tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *